Sore itu angin bertiup pelan, membawa aroma asin dari laut yang tidak terlalu jauh. Dari teras rumah, saya bisa melihat langit berubah warna: mula-mula oranye lembut, lalu perlahan menjadi jingga kemerahan. Krueng Aceh memantulkan cahaya senja, berkilau seperti kaca yang retak. Di atasnya, jembatan baru dengan lampu-lampu tenaga surya mulai menyala, satu per satu, seperti bintang kecil yang turun ke bumi.
Di udara melintas beberapa drone, sibuk mengantar barang ke rumah-rumah. Bunyi desisnya tipis, nyaris tak terdengar dibanding kicau burung yang kembali ke sarang. Kota Banda Aceh memang sudah jauh berubah, tapi suara azan magrib tetap sama: lantang, merdu, dan menenangkan.
Senja di Teras
Saya duduk di kursi kayu tua, ditemani segelas teh hangat yang mengepulkan uap tipis. Tongkat bersandar di samping, tidak dipakai, hanya menunggu kalau saya ingin bangun. Dari jendela rumah tetangga terdengar suara anak-anak mengaji, bersahut-sahutan dengan suara kendaraan listrik yang lewat di jalan depan.
Pemandangan itu membuat teras rumah terasa seperti panggung kecil, di mana masa lalu dan masa depan saling bersapa. Gedung-gedung modern berdiri di kejauhan, tapi pohon mangga di halaman masih berdiri kokoh, sama seperti puluhan tahun lalu.
Kehadiran yang Menghidupkan
Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang cucu berlari keluar sambil membawa tablet. “Lihat, Kek!” katanya riang, “Aku sudah memotret senja pakai drone!” Ia menunjukkan gambar langit jingga yang tertangkap kamera, jauh lebih jernih daripada pandangan mata biasa.
Saya tersenyum, lalu menunjuk ke langit. “Indah, kan? Tapi senja yang kau lihat langsung lebih punya rasa.” Ia terdiam sebentar, kemudian duduk di samping saya. Tablet diletakkannya di meja. Kami hanya menatap langit, diam-diam, membiarkan warna-warna berubah tanpa perlu banyak bicara.
Banda Aceh yang Baru
Dari teras, siluet Masjid Raya Baiturrahman masih bisa terlihat di kejauhan, kini dihiasi kubah tambahan dengan lapisan kaca yang memantulkan cahaya senja. Lampu-lampu jalan menyala otomatis, mengubah suasana kota menjadi lebih tenang. Orang-orang berjalan dengan santai, sebagian pulang kerja, sebagian menuju masjid.
Saya ingat dulu jalanan ini ramai dengan suara motor dan becak. Kini suara itu hilang, digantikan desiran halus kendaraan listrik. Perubahan itu membuat kota lebih sunyi, tetapi senja tetap memberi ketenangan yang sama.
Percakapan Kecil
“Kalau senja hilang, apakah besok akan ada lagi, Kek?” tanya cucu saya dengan polos.
“Senantiasa ada,” jawab saya, “karena setiap hari selalu punya senjanya sendiri.”
Ia mengangguk pelan, lalu bersandar di bahu saya. Hanya suara burung dan azan yang mengisi udara. Percakapan itu sederhana, tapi terasa lebih panjang daripada kalimat yang terucap.
Penutup
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam, menyisakan langit ungu gelap. Lampu kota menyala sepenuhnya, dan suara azan isya menggema dari masjid-masjid. Saya meneguk sisa teh yang mulai dingin, lalu menutup mata sejenak.
Senja hari itu berakhir begitu saja, tanpa kata-kata penutup, hanya dengan keheningan yang hangat. Seperti janji kecil bahwa besok akan ada lagi warna baru di langit Banda Aceh.

Komentar
Posting Komentar